tulisan ini berawal dari sebuah pesan singkat dari seorang sahabat tentang pengumuman seleksi masuk SPS UPI (Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia),, pegumuman yang telah berhasil mem-PHP-kan kami karena pengumumannya diundur dari jadwal yang tertera di web resminya,, dan pengumuman yang sangat kami harapkan kami lolos seleksinya, agar dapat melanjutkan studi pascasarjana disana..
walaupun kami sadar,, kemampuan kami hanya pas-pasan,, terutama jika dilihat dari kehidupan ekonomi kami,, kami hanyalah kumpulan mahasiswa/i yang baru saja lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan,, namun belum mendapat pekerjaan mengajar yang tetap,, terutama saya..
yang kami takutkan utama adalah bukanlah lolos atau tidaknya,,karena jika kami tidak lolos yasudah tidak apa-apa, berarti kami diuji olehNya tentang kesabaran,, tetapi jika kami lolos, maka kami harus segera membayar Rp. 7jt untuk biaya kuliah semester pertama,, bukan hanya itu saja,, kami juga takut kalau nantinya kami putus kuliah ditengah jalan karena alasan ekonomi.. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan mendapatkan beasiswa dari BBP-DN kementrian pendidikan, atau beasiswa lainnya
yaps,, tepat ketika adzan dzuhur hp ku berbunyi, bertanda ada sebuah sms masuk.. ketika kubaca, ternyata sms dari salah seorang sahabatku yang isinya, "pengumuman upi kan katanya minggu ini, udah pada nyiapin uang 7jt belum :| kalo udah bayar tapi ternyata pengumuman beasiswanya kita nggak dapet gimana?"
sambil mendengarkan adzan, aku berpikir sejenak... lalu aku jawab, "gue sih belum nyiapin uang 7jt.. kalo pun kita udah terdaftar dan udah bayar, yaudah kita lanjutin aja kuliahnya :-) Man jadda wajada.. Allah pasti kasih apa yang hambaNya butuh ;-)"... entah pikiran apa yang telah merasukiku sehingga menjawab seperti itu,, setelah membalas pesan itu, akupun bergegas shalat dzuhur...
setelah selesai shalat,, hp ku berbunyi lagi bertanda sebuah pesan masuk,, ketika kulihat, masih dari orang yang sama dan isinya, "kata bokap gw kalo gak dapet beasiswa gak kuliah kii. Bokap gw takut gw berenti ditengah jalan :'("... hmm,, pesimis sekali isi pesan ini pikirku...
aku jadi teringat salah satu pesan dari guruk pamongku ketika aku sedang skripsi, tepatnya uji validitas... Miss Vienny Juliawati namanya,, walaupun beliau tak pernah secara resmi mengajarku dikelas layaknya guru-guruku yang lainnya,, tapi ketika bertemu dengannya,, aku merasa menadapatkan pencerahan..
yang aku ingat dari Miss Vienny adalah kisah ketika beliau melanjutkan kuliah S2 Psikologi di UI (Universitas Indonesia), beliau berkata bahwa beliau sama sekali tidak mengeluarkan uang se-sen-pun atau sering ia sebut dengan istilah zero budget (Rp. 0).. beliau menempuh S2 dengan mendapatkan beasiswa full, entah darimana beliau mendapatkannya, tak pernah diceritakan... beliau pernah berkata, "kii, kalo kamu mau terbang, terbanglah seperti burung... terbang setinggi-tingginya, gapai apa yang kamu inginkan... jangan terbang seperti ayam, yang hanya puas telah menaiki pagar... kamu punya potensi untuk menjadi lebih kii,, jangan sia-siakan potensimu"
setelah mengingat kisah Miss Vienny,, aku pun membalas sms itu, "kalo Allah mengizinkan kita kuliah disana, berarti DIA juga pasti akan memenuhi kebutuhan kita kan :-).. Allah nggak akan pernah mencelakakan hambaNya... ayoo kita semangat, jangan kalah hanya karena uang, tuhan kita bukan uang kan?"
sejenak kemudian hp ku pun berbunyi lagi, menandakan ada pesan yang berisi, "huft.. iya kii, bismillah"... setelah membaca pesan itu, aku pun ikut senang,, senang karena sahabatku kembali ceria :D
kemudia aku pun bertadarus sebentar,, seperti biasa, aku membaca surat kesukaanku, yaitu Q.S. Ar-Rahman.... setelah selesai, aku jadi teringat betapa besar kenikmatan yang Allah berikan kepada kami, umatNya.... betapa besar kenikmatan yang DIA berikan kepadaku untuk bisa belajar dan duduk di bangku sekolah dan perkuliahan....
teringat olehku, bagaimana kisah perjuangan aku untuk bersekolah dulu.... Krisi Moneter (1998) yang ketika itu aku masih duduk di kelas 2 SD menyebabkan ayahku di PHK oleh perusahaanya,, saat itu aku memang belum tahu apa artinya krisis moneter, PHK, pengangguran, dan arti uang untuk kehidupan keluarga kami...
setelah di PHK, ayah sempat menganggur beberapa saat, lalu bekerja serabutan, kuli pasar, kuli bangunan, mencoba dagang, dan terakhir bekerja jadi security di salah satu perusahaan swasta. pada saat itulah secercah cahaya datang untuk mengubah pendidikan kami, anak-anaknya... perusahaan itu memberikan beasiswa untuk anak-anak dari karyawannya yang berprestasi di sekolah... dan tentu saja aku berusaha untuk terus dan selalu menadapatkan beasiswa itu...
sejak kelas 4 SD hingga aku lulus kuliah S1,, alhamdulillah aku selalu berprestasi,, sebenarnya, motivasi untuk berprestasi bagiku bukan untuk pamer bahwa akulah juara di kelas,, tapi lebih tepatnya hanya untuk mendapatkan beasiswa dari kantor ayahku dan agar aku bisa belajar dan melanjutkan studiku.. tak sedikit teman-temanku yang bertanya, " kii, kenapa sih lu bisa pinter? ajarin kita dong".. aku hanya tersenyum dan menjawab, "dengan belajar :)"... oleh karena itu, aku sangat senang menuntut ilmu dan berbagi ilmu kepada siapa saja, karena ilmu
itu milik semua umat, tidak ada hak kita untuk mengkomersilkan ilmu.
aku sadar bahwa selama ini, aku juga zero budget,, dan aku berharap studi S2 ku juga mendapaikan beasiswa full atau zero budget :D
amiiin ya Allah :)
Jakarta, 3 Juni 2013 15.45
Senin, 03 Juni 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Senin, 14 Januari 2013
#5tahunlagi
Terinspirasi dari tweets sebuah Admin (SAM SKRIPSIT) @skripsit tentang sebuah planning 5 tahun lagi,, awalnya pas baca tweet-tweet ini, cuma ketawa dan ngakak, tapi setelah dipikir dan direnungkan eeh ternyata mengisnpirasi dan memotivasi kita juga selaku pembaca..
ini dia tweets dari @skripsit :
Hari ini bingung nyari tanda tangan dosen, #5tahunlagi dosen bingung nyari tanda tangan gue #SuksesBroh!
Hari ini susah ketemu dosen, #5tahunlagi dosen susah ketemu sama gue #SuksesBroh!
Hari ini gak bisa beli iPhone, #5tahunlagi bagi-bagiin iPhone ke orang2 #suksesbroh!
hari ini dompet ksong gak ada duit #5tahunlagi dompet kosong karena duit dibank semua *cek #suksesBroh!
hari ini nama gue tertulis di daftar absen kuliah #5tahunlagi nama gue tertulis di daftar orang terkaya se-dunia
Dulu gw yg antri konsultasi ke dosen #5TahunLagi dosen yg antri mo ketemu gw #suksesBroh!
sampai sekarang kuliah dibayarin ortu, tapi #5tahunlagi ortu guwe, guwe bayarin naik haji. Allahu Akbar #SuksesBroh amin ya rabb
sekarang banyak cewek galau karena ngantri,
sekarang masih ngekos #5tahunlagi gw punya kos-kosan 50pintu.. amiin #SuksesBroh :D
sekarang boleh kuliah naik motor #5tahunlagi ke mall naik helikopter (˘̯˘)
Sekarang ngomong hal penting di abaikan #5TahunLagi semua orang menunggu apa yg akan saya katakan :D #suksesBroh!
Hari ini gagal dapet beasiswa, #5tahunlagi ngasih banyak beasiswa #SuksesBroh!
Hari ini masih sibuk sama skripsi,
#5tahunlagi sibuk berinvestasi.
#SuksesBroh!
Bulan ini daftar seminar proposal #5tahunlagi daftar haji #suksesBroh
sekarang diketawain jualan di pinggir jalan. #5tahunlagi punya restoran mewah di seluruh Indonesia #suksesbroh #entrepreneurship
sekarang tiap bulan musti bayar kos, #5TahunLagi tiap bulan gue disetorin uang kos #suksesbroo
Hari ini yg laen pamer punya iPad 3, #5tahunlagi iPad 10 gue jadiin talenan. #horangkayah #SuksesBroh!
Hari ini yg laen pamer punya iPhone 5, #5tahunlagi iPhone 10 gue jadiin ulekan. #SuksesBroh!
Hari ini yg laen ngetawain gue belom lulus, #5tahunlagi gue nangis ngeliat mereka kebanyakan ketawa *gila #SuksesBroh!
sekarang diejek krn jd juragan pulsa #5tahunlagi jd pemilik provider se-indonesia.. #suksesbroh !
naah gimana, udah pada baca kan impian, harapan, dan cita-cita #5tahunlagi....
Minggu, 13 Januari 2013
Prestasi Membawa Rejeki
Ayah, beliaulah inspirasi utamaku dalam berjuang untuk menggapai cita-cita.
Aku ingat sekali ketika aku kelas 2 dan ingin naik ke kelas 3. Saat itu sedang Crisis Moneter (Krsis Keuangan) yang mengakibatkan kondisi perekonomian negara kita berantarak. Mungkin itu adalah efek general dari peristiwa itu, tapi efek khusus bagiku adalah dipecatnya ayahku dari pekerjaannya sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan Boiler di Jakarta.
Saat itu kulihat raut wajah ayahku yang sangat lesu sedang berdiskusi dengan ibuku. Sebagai seorang kepala keuarga, beliau sangat memikirkan keadaan anak-anak dan istrinya. Terutama masalah ekonomi dan pendidikan. "Sudah menjadi tanggungjawab ayah, le" begitu katanya kepadaku ketika aku bertanya.
Ayahku seorang yang sangat bertanggung jawab. Aku ingat sekali ketika aku bilang, "yah, sepatuku udah mau jebol nih". ketika itu ayahku langsung bilang, "oke besok kita beli sepatu baru di Pasar Baru". Begitu pun dengan kakakku, ketika ia bilang, "ayah, tas mba udah jebol". Seketika itu pula ayahku langsung bilang, "besok kita beli yang baru, kamu mau yang seperti apa ndo?"
Tapi, setelah krisis itu terjadi, semua menjadi agak beda. Yaps, crisis moneter itu mengubah kehidupan kami. "Jangankan buat beli mainan, buat makan besok aja ayah masih mikir" begitulah kata ayah saat aku meminta mainan tamagochi (tau gak? itu lhoo mainan hewan digital yang kalo sakit bisa kita suntik, dan kalo laper bisa kita kasih makan, nah sekarang inget kan? heheh)
Setelah keluar dari perusahaan (baca : dipecat) ayah bingung mau kerja dimana dan jadi apa. Sebab sebagai seorang tamatan SMA, beliau hanya punya skill nge-las (baca : tukang las). Berbeda dengan ibuku yang tamatan SPG, yang saat itu dan sampai sekarang beliau masih jadi guru TK dan SD, saat itu gaji ibuku di TK hanya sebesar 75rb dan di SD 150rb. Walaupun bisa dicukup-cukupkan untuk hidup, namun ayah tak menyerah, bagi ayah, ia harus tetap menafkahi keluarga, sebab itu adalah tanggungjawabnya. Ayah pun mulai ikut dagang di pasar, mulai dari bantu-bantu pedagang mengangkat barang.
Tak lama berjihad dipasar, ayah pun ditawari menjadi security sebuah gudang makanan di kawan Sunter Blok A. Pekerjaan menjadi security pun ayah jalani untuk menambal biaya sekolah kami. Setahun menjalani pekerjaannya, ayah tiba-tiba dipanggil oleh Big Bos. Ketika ayah menghadap, sang Bos bilang, "pak Joko, mulai besok bapak tidak bekerja disini lagi, menjaga gudang ini lagi". Ayah saat itu kaget dan takut, takut kehilangan pekerjaannya, karena pekerjaan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Lalu ayah dengan rasa sedih mohon pamit dan keluar dari ruang kerja si Bos. Sebelum keluar, sang Bos bilang, "pak Joko, saya belum selesai bicara". Ayah pun tidak jadi pergi dan kembali duduk di kursi. "Besok bapak tidak bekerja disini lagi, tapi bapak saya oper ke kantor Koko (kakak) saya, dia butuh security di kantornya. Saya promosikan pak Joko untuk pindah kesana, ke tempat yang lebih nyaman dan berpenghasilan lebih besar", begitulah kata sang Bos. Lalu ayah pun dikasih alamat kantor Kakaknya sang Bos. Keesokan harinya, ketika ayah tiba di kantor kakaknya sang Bos. Ayah kaget, bahwa alamat tersebut adalah alamat sebuah bank swasta. Singkat cerita, ayah pun bertemu dengan pimpinan dan besok bisa langsung kerja.
Seminggu menjadi security di Bank tersebut ayah izin tidak masuk mendadak, karena harus menjaga ibu yang sedang sakit dirumah. Entah saat itu ibu sakit apa, yang jelas disitulah kesetiaan seorang suami terhadap istrinya terlihat. Sore harinya, Bos (baca : manager) bank tersebut mendatangi rumah kami, dengan niat ingin menegur ayah yang baru seminggu kerja udah bolos. Sesampainya dirumah kami, Bos yang niatnya ingin menegur ayah, tapi terbalik, malah merasa iba dengan keadaan rumah kami yang sungguh sangat sederhana. Dan ketika kami (aku dan kakakku) pulang sekolah, kami bertemu secara singkat dengan Bos yang ingin pamit.
Keesokan harinya, ayah dipanggil ke ruang manager. Rasa takut dipecat pun kembali menghantui ayah. Tapi Alhamdulillah, apa yang dipikirkan oleh ayah tidak terjadi. "Pak Joko, saya boleh bertanya?" kata sang manager. "boleh pak, silahkan", jawab ayah singkat. "maaf sebelumnya, bagaimana keadaan istri bapak? oia saya mau tanya anak-anak bapak kelas berapa?", tanya sang manager. "Alhamdulillah pak, istri saya sudah agak sehat. anak pertama saya yang perempuan kelas 5 SD dan yang laki-laki kelas 3 SD pak, memangnya ada apa?", tanya ayah karena penasaran. "ooh tidak ada apa-apa pak. hmm,, begini, maaf lagi sebelumnya, apakah penghasilan bapak cukup untuk makan, biaya hidup dan pendidikan anak-anak?", tanya sang bos. "yaaa, dicukup-cukupkan pak", jawab ayah singkat. "begini pak, mungkin saya tidak bisa menaikkan atau menambah penghasilan bapak karena takut ada karyawan lain yang iri hati sama bapak, naaah di kantor ini ada suatu sistem bagi karyawan yang bekerja disini, bagi anak karyawan yang berprestasi akademik maupun non akademik, akan mendapatkan beasiswa untuk pendidikannya. syaratnya, Akademik (sekolah) anak bapak harus mendapatkan ranking (peringkat) 5 besar disekolah, semakin tinggi peringkatnya, maka semakin besar beasiswa yang akan diberikan, sedangkan untuk non-akademiknya, jika anak bapak berprestasi mendapatkan medali atau piagam bisa diajukan untuk mendapatkan beasiswa prestasi. nah apakah anak-anak bapak memenuhi salah satu syarat yang saya jelaskan barusan?", jelas sang bos." alhamdulillah pak anak-anak saya cerdas, yang pertama ranking 5 dan yang kedua ranking 2". jelas ayah singkat. "baiklah kalo begitu, besok bawa fotokopi raport anak bapak dan juga fotokopi KK". kata sang bos. " baik pak, segera saya bawa", jawab ayah dengan senyuman.
Sesampainya dirumah, ayah pun bercerita kepada kami, anak-anaknya. Mendengar cerita ayah, kami pun semakin termotivasi untuk berprestasi baik secara akademik maupun non-akademik. Sejak saat itu, aku dan kakakku alhamdulillah selalu berprestasi baik akademik dan non akademik, kami selalu juara kelas dan mendapat beasiswa dari kantor ayah. Ayah pernah bilang, "mungkin kalo nggak dari kantor, ayah ga bisa nguliahin kalian. ini bener-bener rejeki dari Allah untuk kalian anak-anak ayah".
Hingga saat aku menulis sebuah catatan ini, kakakku telah menyelesaikan studinya Strata 1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, mengikuti jejak ibuku yang menjadi seorang guru SD. Sedangkan aku masih berusaha untuk lulus secepatnya dari studi Starata 1 ku di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.
Hingga saat aku menulis sebuah catatan ini, kakakku telah menyelesaikan studinya Strata 1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, mengikuti jejak ibuku yang menjadi seorang guru SD. Sedangkan aku masih berusaha untuk lulus secepatnya dari studi Starata 1 ku di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.
Satu kalimat yang ayah berikan dan selalu kuingat, "teruslah mencari ilmu, berprestasi, dan membanggakan orangtua, karena menuntut ilmu dan berprestasi tidak memandang usia seseorang". Ayah mengucapkan itu ketika ayah wisuda Strata 1 Program Studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Al-Ayyubi. Ayah yang sibuk mencari nafkah pun masih melungkan waktunya untuk menuntut ilmu, walaupun saat itu usia ayah sudah tidak muda lagi yaitu 46 tahun. Di lingkungan rumah dan dikantornya, tak ada yang tahu bahwa ia seorang sarjana, karena bagi ayah, ia kuliah bukan untuk mencari gelar dan naik pangkat, tapi ia hanya benar-benar ingin menuntut ilmu agar ketika ia pensiun kelak, masih dapat mengajar ngaji cucu-cucu, anak-anak, dan tetangga-tenangga, menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama.
Ya, begitulah ayahku, inspirasi hidupku (^.^)
Kamis, 15 November 2012
Sisi Lain Seorang Ayah (untuk para anak Perempuan)
Biasanya
anak-anak yang jauh dari orang tuanya merasa kangen sekali dengan ibunya, lalu
gimana dengan ayah???
Mungkin
ibu lebih sering menanyakan keadaan anaknya setiap hari, tapi tahukah kamu jika
ayahmu yang mengingatkannya untuk menelponmu??
Mungkin
ibu yang lebih sering mengajakmu bercerita, tapi tahukah kamu sepulangnya ayah
bekerja, dengan wajah yang lelah ia selalu menanyakan kabarmu dari ibumu?
wakttu kecil
ayah
mengajari putri kecilnya bermain sepeda. Setelah dia mengganggapmu bisa, ayah
melepaskan roda bantu dari sepedamu. Saat itu ibu menutup mata karena takut
anaknya terjatuh lalu terluka tapi ayah dengan yakin menatapmu mengayuh
sepedamu dengan pelan karena dia tahu
putri keculnya pasti bisa.
Saat
kamu menangis meronta meminta boneka yang baru ibu menatapmu iba, tapi ayah
mengatakan dengan tegas “kita beli nanti, tapi tidak sekarang”. Karena ayah
tidak ingin kamu menjadi manja dengan semua tuntutan yang selalu dipenuhi.
ketika kamu remaja
Kamu
mulai menuntut untuk keluar malam. Lalu dengan ayah mulai bersikap lebih tegas
ketika mengatakan “tidak”. Itu untuk menjagamu, karena kamu adalah sesuatu yang
sangat berharga baginya. Tapi kemudian kamu masuk ke kamar dan membanting
pintu. Tapi yang dating mengetuk pintu dan membujukmu adalah ibu. Tahukah kamu
saat itu ayah memejamkan matanya dan menahan diri karena ia sangat ingin
mengikuti keinginanmu. Tapi lagi-lagi… ia harus menjagamu.
Saat
seorang cowok mulai sering dating mencarimu. Ayah akan memasang wajah paling
cool sedunia. Dan sesekali menguping dan mengintip saat kamu sedang berdua di
ruang tamu. Tahukah kamu dia merasa cemburu?
Dan
saat dia melonggarkan sedikit peraturan, kamu melanggar jam malamnya. Ayah hanya
duduk diruang tamu, menunggumu pulang dengan sangat khawatir. Wajah khawatirnya
itu mengeras ketika melihat putrinya pulang terlarut malam. Dia marahhh… karena
hal yang ditakutinya akhirnya datang, “putri kecilnya sudah tidak ada lagi”
Saat
ayah sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter. Kehatuilah bahwa ia hanya
ingin memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh dia tetap tersenyum saat
pilihanmu adalah seorang penulis.
Sampai
saat ayah harus melepaskanmu dibandara. Bahkan badannya terlalu kaku untuk
memelukmu. Ia hanya tersenyum sambil memberi nasihat ini-itu. Ayah ingin
menangis seperti ibumu yang menangis dan memelukmu erat. Tapi dia hanya
menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu sambil
berkata, “jaga dirimu baik-baik”
Saat
kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu. Orang pertama
yang mengerutkan kening adalah ayah. Berusaha mencari jalan agar anaknya merasa
sama dengan yang lain.
Ketika
permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan ia tahu ia tidak bisa
memberikannya. Dia sangat ingin mengakatan “iya, nak, nanti kita beli”. Dan saat
kata-kata yang keluar adalah “tidak bisa” dari bibirnya. Tahukah kamu, ia
merasa gagal membuat anaknya tersenyum???
Saat
kamu sakit dan tidak berada didekatnya. Ayah selalu khawatir sampai kadang
sedikit membentak dan
berkata, “sudah dibilang jangan minum air dingin!!”. Berbeda
dengan ibu yang memperhatikanmu dengan lembut. Ketahuilah saat itu ayah
benar-benar khawatir dengan keadaanmu.
Dan
di saat nanti kamu wisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama
yang berdiri dan memberikan tepuk tangan paling meriah untukmu. Dia sangat
tersenyum bangga dan puas melihatmu. “putri kecilnya yang tidak manja berhasil
tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang”.
Sampai
saat seorang teman hidupmu dating dan meminta izin untuk mengambilmu darinya. Ayah
akan sangat berhati-hati memberikan izin, karena ia tau laki-laki itu yang
nanti akan menggantikannya.
Dan
saat ayah melihatmu duduk di panggung pernikahan bersama seseorang yang
dianggapnya pantas menggantikannya. Ayah pergi kebelakang panggung dan menangis….
Tugasku telah selesai dengan baik, putri kecilku yang lucu telah menjadi wanita
yang cantik.
Ayah
hanya bisa menunggu kedatanganmu dan cucu-cucunya sesekali untuk menjenguknya. Dengan
rambut yang telah memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari
bahaya.
Ayah
adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat, bahkan ketika ia tidak kuat untuk
tidak menangis. Harus terlihat tegas bahkan saat ia ingin memanjakanmu. Ayah juga
orang pertama yang selalu yakin bahwa “kamu bisa” dalam hal apapun.
Tersenyum
dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang ayah hingga
tugasnya selesai. Kamu adalah salah satu orang yang beruntung. Karena ayah
adalah sosok superhero yang hebat.
Langganan:
Postingan (Atom)

